Locusta migratoria manilensis Meyen

Belalang kembara (Locusta migratoria manilensis Meyen)

Belalang kembara (Locusta migratoria manilensis Meyen)  termasuk dalam genus Locusta mempunyai beberapa sub-spesies yang wilayah penyebarannya berbeda-beda. Di Indonesia, L. migratoria manilensis Meyen merupakan satu-satunya spesies belalang yang mengalami fase transformasi dari sebanyak 51 spesies anggota famili Acrididae yang tercatat sebagai hama di Indonesia. Struktur tubuh belalang kembara terdiri dari tiga bagian yaitu kepala (caput), dada (thorax) dan perut (abdomen), mempunyai satu pasang antena, dua pasang sayap dengan tiga pasang tungkai.  Famili Acrididae ini mempunyai kurang lebih sekitar 8000 spesies yang terdiri dari tiga sub-famili yaitu Cyrtacanthacridinae, Oedipodinae dan Acridinae .Pada abad ke-19 banyak kerusakan tanaman yang ditimbulkan oleh belalang kembara di daerah Laut Tengah, Eropa Tengah dan Eropa Timur. Serangan hama belalang di Indonesia  pada tahun 1877, yaitu belalang L. migratoria manilensis Meyen  yang menyerang pertanaman padi di pulau Halmahera. Pada tahun 1915 terjadi di Minahasa dan  Sulawesi Selata,i Kalimantan Utara pada tahun 1918.. Pada bulan Oktober – Nopember 1973, 1974 dan 1975  kerusakan tanaman terjadi di seluruh pulau Sumba. Bulan April 1995 sampai Oktober 1999/2000, terjadi serangan  di Lampung. Bulan Oktober 2005 menyerang tanaman di Kalimantan  Barat. Nusa Tenggara Timur  merupakan salah satu propinsi yang bermasalah dalam hama belalang kembara dari 2007 hingga saat ini yakni di Kabupaten Timor Tengah Utara   Belu dan Sumba Timur

 

Siklus Hidup Belalang Kembara

Siklus hidup dimulai dari telur.Telur yang baru dioviposisi berwarna putih alu berubah menjadi: kuning. Telurnya terdapat dalam suatu paket seperti bahan berupa buih yang cepat mengering yang dikeluarkan pada waktu bertelur.  Saat bertelur betina membuat lubang di dalam tanah.. Nimfa yang baru menetas biasanya masih diselimuti oleh selaput telur yang kemudian dilepaskannya.. Nimfa pada fase soliter berwarna   hijau atau coklat . Fase gregarius nimfa berwarna: kemerah-merahan/oranye/ kecoklat-coklatan dengan pola warna: dua garis horizontal hitam  atau dua stripes di belakang mata majemuk, memiliki dua garis memanjang pada: pronotum & bakal sayap & juga pada lateral dan dorsal abdomen Individu dewasa pada  densitas rendah kepala relatif sempit, pronutum kepala tinggi, femur belakang panjang. Pada densitas tinggi kepala lebih lebar, pronotum kepala rendah,  femur lebih pendek dari sayap, warna tubuh coklat/kecoklatan dan abdomen lebih besar (betina),  jantan warna tubuh kekuning-kuningan, lebih lancing tubuhnya dan lebih aktif dari betina.

 

Tanaman Kesukaan

Kelompok yang bermigrasi dapat memakan tumbuhan yang dilewatinya selama dalam perjalanan. Perilaku makan belalang kembara dewasa biasanya hinggap waktu sore hari dan malam hari sampai pagi hari sebelum terbang.  Kelompok nimfa yang bermigrasi dapat memakan tumbuhan di lokasi selama dalam perjalanan. Belalang ini lebih cenderung memilih makanan yang lebih disukainya terutama dari famili gramineae. Tanaman yang diserang adalah jagung, padi, sorgum atau spesies rumput lainnya.

Gejala Serangan Pada Tanaman Jagung

Gejala Serangan Pada Tanaman Padi

 

Referensi

Dammerman  KW. 1929. The Agricultural Zoologi of the Malay Archipelago.
Kalshoven  LGE. 1950. De Plagen van de Cultuurgewassen in Indonesia, Dell I. Uitgev. W van Hoeve,’s Gravenhage.
Matheson R. 1951. Entomology for Introductory Cources. Comstock Publ. Co. Inc.
Soenardi. 1975.  Keadaan Hama Belalang dan Pemberantasannya dewasa ini di Sumba. Direktorat Perlindungan Tanaman Pangan, Jakarta.
Vos  HC AA. 1955. Belalang-belalang. Universitas Gajah Mada. Yogyakarta.

Kupu -kupu Gagak (Euploea midamus)

 Tahukah kamu mengapa Euploea midamus (Lepidoptera: Danaidae) dikatakan sebagai kupu kupu gagak?

Pada umumya  burung gagak kerap memiliki warna yang hitam gelap sehingga banyak  kalangan kerap mengaitkannya dengan hal-hal mitos yang menakutkan.  Lalu apa hubungannya dengan kupu-kupu Euploea midamus?

Euploea midamus merupakan jenis kupu-kupu yang berwarna hitam gelap, dengan ukuran tubuh besar dengan bintik-bintik putih pada sayap depan dan band bintik-bintik yang memanjang di sayap belakangnya. Luar sayap margin memiliki bintik-bintik putih kecil.

Euploea midamus, dibalik namanya yang sering di katakan kupu-kupu gagak,  namun tidak memiliki arti menyeramkan layaknya burung gagak.  Jenis kupu-kupu ini memliliki keindahan tersendiri.  Hal yang unik dari jenis kupu-kupu ini yakni pada jantan yang memiliki sepasang sikat kuning  tersembunyi di ujung posterior, yang dimana dapat diperpanjang dari dalam  hingga ke luar bagian ujung posterior.  Sikat kuning berwarna cerah dan memancarkan bau yang musky yang diduga berfungsi sebagai penarik betina dan sebagai bagian perkawinan

Belalang Monyet (Eumastacidae)

Belalang Monyet Famili Eumastacidae
Pada tahun 1989 dalam proyek ekspedisi Wallace ke Indonesia di Sulawesi Butlin R.K; Blackith R.E; Blackith R.M., Orthoptera Eumastacidae. Keenam spesies eumastacid yang ditemukan di dekat Taman Nasional Dumoga-Bone (Sulawesi Utara) termasuk ke dalam subfamili Mnesicleinae Belalang monyet ini salah satunya terdapat di daerah hutan wisata kaliurang merapi pada waktu pencarian jumlahnya tidak banyak ditemukan di dekat tanaman pakis. Belalang monyet dianggap primitif di dalam Orthoptera dan memakan alga, pakis dan gymnosperma, kelompok tanaman yang lebih kuno. Spesies dari belalang ini banyak yang tidak bersayap dan kepala (caput) bagian atas kepala sering menonjol, terdapat garis di dada (thoraks dan perut (Abdomen), memiliki tiga tarsi tersegmentasi dan memiliki antena pendek dengan organ pengikat di ujungnya dan tidak memiliki tulang belakang prosternal atau timpani. Eumastacidae merupakan belalang monyet karena belalang ini mempunyai kaki yang kurus dilipat dan tidak sama antara kaki depan dan kaki belakang. Pada kaki belakang belalang ini secderung lebih panjang sehingga disebut belalang monyet. Belalang monyet ini ada yang bersayap ada yang tidak sekilas bentuk sayap belalang ini mirip Neoroptera sedangkan bagian kepalanya mirip Acrididae. Jika kita tidak jeli memperhatikan bagian belakang kaki belalang tersebut kita akan tertipu dan sekilas menganggapnya sama dengan belalang yang biasa kita lihat. Belalang ini mempunyai dua warna satu hijau metalik dan berwarna coklat.

Si Cantik Jewel Beetle

Si cantik ini memiliki nama latin Chrysochroa fulminans (Coleoptera; Buprestidae) atau yang biasa disebut Jewel beetle atau Metallic wood-boring beetles.  Di Indonesia, serangga unik ini memiliki nama lokal Samber lilin (sunda) dan Samber iler (Jawa). Saya menemukannya di sekitar pohon waru (Hibiscus tiliaceus). Kumbang ini menjadi sasaran para kolektor serangga untuk diburu, itulah sebabnya mereka sulit ditemukan. Keunikannya yang begitu menonjol tampak pada elytra dengan corak warna yang mengkilat. Warna-warni mengkilat yang terdapat pada kumbang ini bukan disebabkan karena pigmen pada eksoskeletonnya, namun disebabkan oleh pewarnaan struktural di mana tekstur mikroskopik pada kutikula mereka secara selektif memantulkan frekuensi cahaya ke arah tertentu sehingga memantulkan banyak warna. Efek ini serupa dengan efect yang terdapat pada kepingan CD (Compact disc).

Jika anda mencari di internet dengan kata kunci Chrysochroa fulminans, anda akan menemukan begitu banyak situs yang menjual serangga-serangga ini dalam bentuk awetan. Alasannya tentu saja karena warnanya yang begitu elok dan menarik. Di benua Amerika, kumbang  ini banyak digunakan sebagai liontin atau aksesoris lainnya. Sedangkan di Indonesia, kumbang cantik ini tidak hanya diburu untuk dijadikan sebagai aksesoris tetapi juga sering dikaitkan dengan mitos atau keilmuan ghaib yang dipercaya memiliki daya magis pengasihan, termasuk untuk memikat hati dan memancarkan daya tarik serta pesona tersendiri. Woooww mengejutkan bukan… Karena alasan itulah, kumbang cantik ini sekarang susah ditemukan.

Kepik Hitam Plataspidid: “Bugs or beetles?”

Kepik hitam dari famili Plataspididae ini mempunyai ciri morfologi yang menyerupai kumbang. Kepik ini adalah true bugs, dari ordo Hemiptera. Serangga dewasa berwarna hitam mengkilap, berbentuk cembung, dengan skutelum yang besar hampir menutupi seluruh bagian abdomennya.  Kepik Plataspidid juga sering disebut kudzu bug, kudzu beetle, globular stink bug dan lablab bug. Serangga ini memiliki alat mulut pencucuk penghisap, dan umumnya merupakan herbivora yang memakan bagian floem dari tanaman. Serangga ini banyak dijumpai pada tanaman kacang-kacangan. Famili Plataspididae terdiri lebih dari 60 genus dan 560 spesies di seluruh dunia. Distribusi serangga ini meliputi berbagai negara di Asia, seperti Cina, India, Indonesia, Jepang, Korea, Malaysia, Myanmar, Pakistan, Srilanka, Taiwan, Thailand dan Vietnam. Satu spesies, Megacopta cribraria, baru-baru ini dikenal sebagai hama kedelai di Amerika Serikat. Dua spesies di antaranya yang terdapat di Indonesia ialah Brachyplatys sp. dan Coptosoma sp.

 

Klasifikasi

Kingdom : Animalia
Filum : Arthropoda
Klas : Insekta
Ordo : Hemiptera
Subordo : Heteroptera
Superfamili : Pentatomoidea
Famili : Plataspididae

Takson ini pertama kali disebutkan sebagai kelompok yang lebih tinggi oleh Dallas (1851-1852). Fieber (1861) menggunakan nama Arthropteridae, Kirkaldy (1909) menggunakan nama Coptosominae, dan Leston (1952) menggunakan nama Brachyplatidae. Warna, pembesaran skutelum, dan lipatan sayap dari serangga ini menunjukkan hubungannya dengan famili Aphylidae, Canopidae, Lestoniidae, Megarididae, dan Scutelleridae.

 

Bentuk dan Ukuran

Ukuran serangga Plataspididae umumnya cukup kecil, dengan panjang 2,5 – 7 mm dan sering ditemukan dalam kelompok-kelompok kecil pada batang, tunas muda dan bunga pada tanaman inang. Genus Coptosoma memiliki ukuran tubuh 2,5 – 5 mm, hampir berbentuk lingkaran, dan Brachyplatys dengan ukuran 5 – 7 mm. Sayap depan lebih panjang dibandingkan dengan tubuhnya, dan dapat dilipat secara melintang di bawah skutelum. Antena terdiri atas 4 ruas dan tarsi 2 ruas.

 

Kunci Determinasi

Genus Coptosoma memiliki ciri yaitu oceli yang terdapat di dekat mata; rasio jarak antara mata dan oceli terhadap jarak interocellar kurang dari 1:2; sterna abdominal biasanya cembung; kepala biasanya  sempit, kira-kira 0,3-0,5 kali lebih lebar dari pronotum; dan dasar skutelum (pseudoskutelum) biasanya muncul.

Genus Brachyplatys memiliki ciri oceli yang terletak saling berdekatan, rasio jarak antara mata dan oceli terhadap jarak interocellar lebih besar dari 1:2; sterna abdominal tidak atau sedikit cembung; kepala melintang, biasanya 0,5-0,7 kali lebar pronotum; pseudoskutelum tidak ada atau kurang berkembang; tubuh rata; warna hitam, kadang-kadang terlihat kuning, sering dengan garis submarginal kuning di kepala, pronotum dan skutelum.

 

Tanaman Inang

Serangga ini sebagian besar merupakan herbivora yang memakan bagian floem dengan inang yang beragam, di antaranya pada tanaman Leguminoceae dan Fabaceae. Serangga ini diketahui menyerang tanaman turi (Sesbania grandiflora), gamal (Gliricida maculata) dan akasia (Acacia sp.).  Tanaman gamal dan akasia juga berfungsi sebagai tanaman pelindung pada kebun kakao dan kopi. Tanaman inang yang lain yaitu kacang panjang, kedelai, kacang koro dan tanaman kacang-kacangan lainnya. Karena kisaran inangnya yang cukup beragam, maka serangga ini berpotensi untuk menjadi hama penting.  Serangan kepik ini dalam jumlah banyak pada bagian pucuk menyebabkan pucuk menjadi layu dan mati. Serangan yang tinggi akan menyebabkan daun berguguran kemudian mati. Serangga ini biasanya ditemukan berkelompok pada pangkal ranting dan dapat berpindah ke ranting yang lain.

 

Siklus Hidup

Serangga ini mengalami metamorfosis tidak sempurna, tanpa fase pupa. Imago betina meletakkan telurnya pada batang, ranting muda, daun dan buah secara berkelompok dan tersusun dalam 2 baris. Sebelum meletakkan telur, serangga betina menyimpan partikel  yang berisi simbion yang kemudian akan dimakan oleh nimfa yang baru menetas. Jumlah telur pada setiap kelompok antara 25-75 butir. Telur berwarna putih berbentuk seperti tabung dengan panjang 1 mm dan diameter 0,5 mm. Masa telur berlangsung antara 7-10 hari. Nimfa yang baru keluar berwarna coklat muda dan berangsur-angsur berubah menjadi coklat tua. Nimfa instar 1 yang baru keluar dari telur akan segera mencari bakteri simbion yang terdapat pada bagian tengah dan belakang telur. Bakteri ini membantu nimfa dalam proses pergantian instar ke instar selanjutnya. Nimfa yang kehilangan akses dengan simbion menunjukkan pertumbuhan yang lebih lambat, ukuran tubuh lebih kecil dan mortalitas yang lebih tinggi. Nimfa instar 2 sampai instar 4 akan mencari makanan pada pucuk tanaman.  Perkembangan nimfa menjadi imago ditandai dengan perubahan dari instar 1 sampai instar 5. Siklus hidup serangga ini yaitu sekitar 30 hari.

 

Trophobiosis

Serangga ini diketahui memiliki hubungan trophobiosis dengan beberapa spesies semut, di antaranya Componotus brutus (Formicidae) dan Myrmicaria opaciventris (Myrmicinae). Trophobiosis dalam hal ini merupakan hubungan simbiosis antara semut dengan kepik Plataspididae. Semut memakan honeydew dengan kandungan gula yang tinggi, yang disekresikan oleh nimfa dan serangga dewasa. Sementara itu, dengan dimanfaatkannya honeydew oleh semut akan memberikan perlindungan terhadap musuh alami, seperti predator dan parasitoid, antara lain parasitoid telur Ooencyrtus sp. (Hymenoptera: Encyrtidae). Hal tersebut dikarenakan honeydew merupakan sinyal kimia bagi musuh alami terhadap keberadaan mangsanya, sehingga dengan dimakannya honeydew oleh semut, semakin sulit bagi musuh alami untuk menemukan mangsanya.

 

Referensi

Gibernau M & Dejean A. 2001. Ant protection of Heteropteran trophobiont against a parasitoid wasp. Oecologia 126: 53-57.

Kalshoven LGE. 1981. The Pests of Crops in Indonesia. Ichtiar Baru Van Hoeve. Jakarta.

Maschwitz U, Fiala B, Dolling WR. 1987. New trophobiotic symbioses of ants with South East Asian Bugs. Journal of Natural History 21: 1097-1107.

Randall T Schuh & James A Slater. 1995. True Bugs of The World (Hemiptera: Heteroptera), Classification and Natural History. Cornell University Press, Ithaca, New York.

Kunang-Kunang “Lightning Bug”

Mitos atau Fakta???

Kunang-kunang merupakan serangga yang sangat unik. Namun, hanya sedikit sekali dari kita yang memahami dengan baik serangga ini. Berbagai mitos berkembang di masyarakat mengenai kunang-kunang. Kunang-kunang sering diidentikkan dengan kukunya orang yang sudah meninggal. Kunang-kunang juga dipandang sebagai binatang yang menakutkan. Di masyarakat pun beredar rumor, jika melihat kunang-kunang, maka tangan ditaruh di telinga agar kunang-kunang tidak masuk ke telinga dan menyebabkan kematian.

Faktanya adalah…..

Untuk menjawab mitos tersebut, dapat dipahami bahwa tempat orang meninggal atau  kuburan merupakan salah satu tempat yang cocok untuk  perkembangbiakan kunang-kunang. Di kuburan banyak ditemukan pohon yang dapat mempengaruhi kelembaban dan cocok dengan kunang-kunang. Tanahnya yang gembur juga menjadi salah satu alasan mengapa kuburan juga menjadi salah satu habitat kesukaan kunang‐kunang untuk memperoleh makanan dan bertelur. Jadi terjawab sudah mitos yang menjadi cerita orang-orang akan kunang-kunang.

Di pulau Jawa, populasi kunang-kunang semakin hari semakin berkurang jumlahnya. Belum ada upaya perlindungan untuk mengantisipasi mengecilnya jumlah spesies kunang-kunang. Beberapa faktor penyebab berkurangnya spesies kunang-kunang meliputi: konversi lahan persawahan menjadi bangunan fisik, terganggunya saluran irigasi persawahan, perilaku masyarakat ataupun petani yang membakar jerami dan menimbulkan asap, dan penggunaan pestisida.

 

Mengapa Kunang–Kunang Bercahaya?

Kunang-kunang adalah hewan nocturnal. Fenomena pancaran cahaya dari kunang-kunang merupakan hasil dari  reaksi kimia yang disebut dengan kemiluminesensi. Kunang-kunang dapat mengeluarkan cahaya melalui suatu proses yang dikenal dengan bioluminescence. Pada proses ini, zat luciferin di dalam abdomen bereaksi dengan enzim luciferase dan oksigen. Reaksi kimia ini mampu menghasilkan cahaya atau panas yang lemah yang kemudian dikenal dengan istilah cahaya dingin (cold light). Hampir  90% energi yang dihasilkan dari reaksi luminisensi diubah menjadi energi cahaya.  Udara yang masuk ke dalam perut kunang-kunang mampu menciptakan pola denyut yang kemudian menciptakan cahaya berkedip dari kunang‐kunang tersebut. Cahaya yang dikeluarkan kunang-kunang memiliki beberapa fungsi untuk menarik lawan jenis, mempertahankan diri, kegiatan perburuan, dan sebagai penanda alam bebas polusi udara.

Kunang-kunang merupakan serangga unik, karena kemampuannya untuk menghasilkan cahaya. Spesies kunang-kunang termasuk dalam keluarga Lampyridae yang merupakan ordo dari Celeoptera. Dalam bahasa Inggris kunang-kunang disebut dengan istilah Firefly atau Lightning bug Atau Glowworms. Kunang-kunang mempunyai tubuh  memanjang, panjang berkisar 4.5-20 mm, tubuh lunak, pronotum meluas kearah depan di atas kepala, sehingga kepala nampak melebar dilihat dari atas, mata tersembunyi bila dilihat dari atas, beberapa abdomen terakhir tarsi 5-5-5.

sumber:

1. Sari, M., Ratnawulan dan Gusnedi. 2014. Karakteristik Fisis Pemancaran Cahaya Kunang-Kunang Terbang    (Pteroptyx tener). Pillar of Physics, Vol. 1. April 2014, 113-120.

2. Umiarti, A. T., dan Made Sukana. 2016. Kunang-Kunang (Firefly) Serangga Bercahaya, Petualangan Eksotis    Malam Hari. Fakultas Peternakan dan Fakultas Pariwisata, Universitas Udayana, Bali.

 

Pheropsophus occipitalis “Bombardier Beetle”

Pheropsophus occipitalis merupakan salah satu dari 48 spesies “Bombardier Beetle“ atau kumbang pembom. Kumbang ini termasuk pada famili Carabidae dan merupakan kumbang tanah. Serangga ini memiliki panjang tubuh 13 milimeter dan elytra gelap dengan barcak berwarna jingga serta memiliki sistem pertahanan diri yang sangat luar biasa seperti julukannya yaitu Bombardier Beetle. Saat terancam, kumbang bombardier menyemprotkan bahan kimia yang sangat panas mencapai 212°F (100°C) dengan suara yang nyaring. Bahan kimia yang disemprotkan oleh kumbang bombardier ini adalah hidrogen peroksida dan hidroquinon.Kumbang ini memiliki dua kelenjar pada bagian pygidum untuk menyimpan dan memisahkan hidrogen peroksida dari hydroquinone. Abdomen kumbang ini dirancang sangat baik sehingga dua bahan kimia berbahaya tersebut tidak tercampur dan menyebabkan kumbang tersebut meledak. Selain dua kelenjar tersebut kumbang ini memiliki ruang reaksi yang juga disebut explotion chamber yang merupakan kantung penyemprot dengan dinding yang tersusun atas sel-sel penghasil enzim katalase dan peroksidase. Di ruangan ini, terjadi reaksi kimia yang menghasilkan panas, berupa campuran panas mendidih uap air dan zat kimia pedih beracun, yaitu p-benzokuinon (C6H4O2) dengan perantara enzim katalase dan peroksidase. Campuran ini memancar dari tubuh kumbang bombardier dengan suhu mencapai 100°C dan kecepatan semprot sekitar 300-1000Hz per detik. Otot-otot di sekeliling pigydium yang mengarah ke luar sehingga semburan uap dapat diarahkan ke sumber bahaya. Kumbang itu pun dapat membakar musuhnya dengan menyemprotkan cairan yang dihasilkannya. Mekanisme ini biasa disebut “pulsed spray”. Uniknya cairan yang membahayakan musuh itu tidak mencederai kumbang itu sendiri karena bagian tubuh kumbang dilapisi dengan bahan tahan panas. Sistem pertahanan ini terbukti efektif untuk mengusir predator yang lebih besar seperti laba-laba hingga manusia.

 

Leptocentrus taurus

Leptocentrus taurus (Fabricius, 1775)

Ordo         : Hemiptera

Famili       : Membracidae

Genus      : Leptocentrus

Spesies    : L. taurus

Leptocentrus taurus, atau biasa disebut wereng pohon  memiliki karakteristik memiliki tanduk seperti duri berjumlah 3, yang merupakan perpanjangan(proyeksi) dari bagian thorax, mengarah ke kanan dan ke kiri dan satu kebelakang bagian tubuh. Keberadaan wereng pohon ini biasanya berada di  semak, pada pupuk hijau, pohon buah dan naungan. Pada praktikum ini Leptocentrus taurus didapat pada tanaman  jambu air di wilayah kabupaten Sragen.

Leptocentrus taurus memiliki hubungan yang sangat unik dengan semut. Mereka akan bertelur di pohon yang memiliki koloni semut. Saat telur menetas menjadi larva, semut menjadi pelindung bagi mereka. Larva tersebut mengeluarkan cairan yang dipanen oleh koloni semut untuk mereka gunakan sendiri. Semut sangat terobsesi dengan cairan sehingga mereka akan menghalangi serangga lain untuk mendekati larva tersebut. Hubungan ini berlanjut bahkan saat para wereng pohon itu menjadi dewasa

Kegiatan Praktikum Taksonomi Serangga Pradewasa

Pasca Sarjana Ilmu Hama Tumbuhan,
Tahun ajaran 2017/2018

Mata Kuliah Taksonomi Serangga Pradewasa merupakan salah satu matakuliah pilihan bagi mahasiswa pasca sarjana ilmu hama tumbuhan. Kriteria kelulusan dalam matakuliah ini yaitu mampu melakukan identifikasi terhadap serangga pradewasa (immature insect) dengan mengenali karakter pembeda dari tingkat ordo, famili hingga genus.



Untuk memenuhi kredit pembelajaran dilakukan kegiatan praktikum mandiri berupa koleksi serangga pradewasa (larva, nimfa, naiad) di lapangan dari berbagai habitat dengan jumlah minimal koleksi sebanyak 100 famili. Proses identifikasi spesimen koleksi dilakukan di Laboratorium Entomologi Dasar, Dept. Hama dan Penyakit Tumbuhan, Fak. Pertanian, UGM.

Praktikum mandiri koleksi serangga pradewasa dilakukan di berbagai habitat meliputi, terestrial : kebun, sawah, hutan, semak, lembah, dan pertamanan, serta habitat akuatik meliputi sungai, dan air terjun. Beberapa tempat yang sudah kami kunjungi yaitu Kali Adem (kaliurang), Air terjun Tlogo Putri, Kawasan hutan Goa Jepang, Kebun Percobaan Berbah, Kebun Percobaan Bangun Tapan, Pertanaman Bawang dan Cabai (Bantul), Lembah Bulak Sumur UGM, Persawahan Magelang, Air terjun Kedung Kayang Boyolali.

Aularches miliaris si Belalang Setan

Aularches miliaris (Orthoptera: Pyrgomorphidae) atau yang memiliki nama umum belalang setan merupakan serangga yang dianggap sebagai hama dibidang pertanian karena dapat merusak pertanaman seperti kebanyakan belalang lainnya dan bersifat polifagus.

Ketika mendengar nama “setan”, terlintas dibenak kita bahwa belalang ini mempunyai warna dan bentuk tubuh yang jelek dan mengerikan. Namun tidak seperti namanya, Aularches miliaris memiliki tubuh seperti belalang biasa dan memiliki warna tubuh yang cerah dan menarik. Kepala dan dada (thorax) berwarna biru gelap dengan garis kuning di bawah mata sampai keatas mulut, pada dada (thorax) bagian dorsal terdapat gerigi, tungkai berwarna biru gelap, pada femur tungkai belakang terdapat gerigi berwarna kuning, abdomen berwarna merah cerah dengan garis-garis hitam, sayap depan (tegmina) berwarna dasar hijau-coklat dengan bintik-bintik kuning seperti motif macan tutul. Warna tubuh yang berwarna-warni ini berfungsi sebagai pertahanan diri dari predator atau musuh alaminya. Selain menggunakan warna tubuh yang menarik, Aularches miliaris memiliki mekanisme pertahanan diri lainnya seperti mengeluarkan busa yang beracun atau cairan yang berbau busuk (evil-smelling) dari thorax dan mengeluarkan suara berderit (sama seperti suara yang dikeluarkan pada saat mating atau kawin). Oleh sebab itu belalang ini sering disebut sebagai belalang setan. Selain belalang setan, Aularches miliaris juga disebut sebagai belalang busa, belalang tutul utara atau belalang kopi.

Namun keberadaannya jarang ditemui dan di India Selatan dikabarkan terancam punah. Aularches miliaris dapat ditemukan di ASIA Selatan dan ASIA Tenggara. Di Indonesia sendiri, Aularches miliaris masih bisa ditemukan di daerah Dlingo, Kabupaten Bantul, Provinsi Yogyakarta, akan tetapi populasinya sangat sedikit. Pergerakan belalang ini sangat lamban, pada saat didekati serangga ini hanya melompat rendah dan tidak terbang, sehingga sangat mudah untuk ditangkap.