Aularches miliaris si Belalang Setan

Aularches miliaris (Orthoptera: Pyrgomorphidae) atau yang memiliki nama umum belalang setan merupakan serangga yang dianggap sebagai hama dibidang pertanian karena dapat merusak pertanaman seperti kebanyakan belalang lainnya dan bersifat polifagus.

Ketika mendengar nama “setan”, terlintas dibenak kita bahwa belalang ini mempunyai warna dan bentuk tubuh yang jelek dan mengerikan. Namun tidak seperti namanya, Aularches miliaris memiliki tubuh seperti belalang biasa dan memiliki warna tubuh yang cerah dan menarik. Kepala dan dada (thorax) berwarna biru gelap dengan garis kuning di bawah mata sampai keatas mulut, pada dada (thorax) bagian dorsal terdapat gerigi, tungkai berwarna biru gelap, pada femur tungkai belakang terdapat gerigi berwarna kuning, abdomen berwarna merah cerah dengan garis-garis hitam, sayap depan (tegmina) berwarna dasar hijau-coklat dengan bintik-bintik kuning seperti motif macan tutul. Warna tubuh yang berwarna-warni ini berfungsi sebagai pertahanan diri dari predator atau musuh alaminya. Selain menggunakan warna tubuh yang menarik, Aularches miliaris memiliki mekanisme pertahanan diri lainnya seperti mengeluarkan busa yang beracun atau cairan yang berbau busuk (evil-smelling) dari thorax dan mengeluarkan suara berderit (sama seperti suara yang dikeluarkan pada saat mating atau kawin). Oleh sebab itu belalang ini sering disebut sebagai belalang setan. Selain belalang setan, Aularches miliaris juga disebut sebagai belalang busa, belalang tutul utara atau belalang kopi.

Namun keberadaannya jarang ditemui dan di India Selatan dikabarkan terancam punah. Aularches miliaris dapat ditemukan di ASIA Selatan dan ASIA Tenggara. Di Indonesia sendiri, Aularches miliaris masih bisa ditemukan di daerah Dlingo, Kabupaten Bantul, Provinsi Yogyakarta, akan tetapi populasinya sangat sedikit. Pergerakan belalang ini sangat lamban, pada saat didekati serangga ini hanya melompat rendah dan tidak terbang, sehingga sangat mudah untuk ditangkap.

Lalat Mata Bertangkai (Diptera: Diopsidae)

Lalat mata bertangkai ini saya foto di vegetasi seputaran mulut Gua Kiskendo, Girimulyo, Kabupaten Kulon Progo, Yogyakarta. Famili Diopsidae dari serangga ordo Diptera

Pemanjangan dari dua sisi kepala membentuk tangkai dengan mata pada bagian ujungnya sehingga disebut sebagai lalat mata bertangkai. Pada postnotum terdapat sepasang spines yang sangat kuat dan tajam. Femur pada bagian anterior membesar dengan ventral spines. Serangga dewasa ditemukan pada vegetasi rendah  didaerah yang  lembab, dekat dengan sungai atau aliran air. Lalat dewasa berupa jamur atau bakteri yang berasal dari pembusukan tanaman. Lalat  betina meletakkan telur pada batang  atau bagian tumbuhan yang membusuk. Umumnya larva merupakan saprofag memakan bagian tumbuhan yang membusuk.

 

 

Sejauh Apa Kita Mengenal Cicada (Tonggeret) di Indonesia?

INTRODUCTION
Melalui tulisan ini saya akan mengulas mengenai Cicada (tonggeret) serangga penanda pergantian musim yang sedang banyak bermunculan pada bulan-bulan ini (April-Mei). Di Indonesia berbagai nama dikenal sebagai local name dari Cicada, yaitu vampir pohon, tonggeret, garengpung, kriangan, nyengnyeng serta uir-uir. Keunik-kan dari serangga pencucuk penghisap ini adalah selain fungsi sosialnya sebagai penanda pergantian musim juga karena siklus hidupnya yang tidak banyak orang mengetahui bahwa Cicada memiliki umur hingga 17 tahun. Namun, sejatinya apasaja yang sudah kita ketahui mengenai serangga ini?? apakah tonggeret di Indonesia juga memiliki umur yang sama panjangnya dengan Cicada di negara lain?? apakah tonggeret di Indonesia sudah banyak diteliti hingga nama spesies bahkan distribusinya?

Gambar1. Eksuvie nimfa tonggeret instar 5 (Instar akhir)

Saya mengutip kata bijak mengenai Cicada dari www.magicicada.org “Cicada adalah salah satu keajaiban alam – jutaan serangga bernyanyi, terbang, dan kemudian pergi sebelum kita menyadarinya”. Ini adalah kondisi kita sekarang bahwa kita belum menyadari sepenuhnya apa yang ada di sekitar kita meskipun hal itu memiliki manfaat, seperti Cicada.

TAKSONOMI
Dari segi taksonomi saya tertarik untuk dapat melihat bagaimana Exuviae (selongsong kulit hasil molting serangga) dapat berfungsi sebagai penciri identitas tonggeret/Cicada hingga pada taraf spesies. Bagian tubuh nimfa tonggeret instar akhir yang dapat dijadikan sebagai penanda spesies meliputi :
a) Femoral comb/sisir atau gerigi pada femur,
b) Spine/duri pada kaki belakang
c) Ventral genitalia/kenampakan pada ujung abdomen (alat kelamin) jantan maupun betina

Gambar2. Bagian tubuh pada nimfa instar 5 yang dapat dijadikan sebagai petunjuk identifikasi spesies

Eksplorasi Serangga Goa

Around 24 students, 4 co-asistant, 2 lecturer, from our department, orgnised excursion about entomology on September 4-5, 2015 here at Kiskendo cave in Jogjakarta. The place is the strict nature reserve or protected area which is conservation area site.


Figure 1. Kiskendo cave

There were may sea before 10 million years ago. At present we could see the see bed there. This is managed as the historic and natural site.


Figure 2. Observation of insects inside the cave


Figure 3. Ant (Myrmicaria sp.)

Every student had to be collect and identify some insect species around the cave to the Family level and the common species to the Genus level, such as Myrmicaria spp., Cyrtodiopsis spp. and cave cricket.