Posts Tagged ‘kepik hitam’

Kepik Hitam Plataspidid: “Bugs or beetles?”

Kepik hitam dari famili Plataspididae ini mempunyai ciri morfologi yang menyerupai kumbang. Kepik ini adalah true bugs, dari ordo Hemiptera. Serangga dewasa berwarna hitam mengkilap, berbentuk cembung, dengan skutelum yang besar hampir menutupi seluruh bagian abdomennya.  Kepik Plataspidid juga sering disebut kudzu bug, kudzu beetle, globular stink bug dan lablab bug. Serangga ini memiliki alat mulut pencucuk penghisap, dan umumnya merupakan herbivora yang memakan bagian floem dari tanaman. Serangga ini banyak dijumpai pada tanaman kacang-kacangan. Famili Plataspididae terdiri lebih dari 60 genus dan 560 spesies di seluruh dunia. Distribusi serangga ini meliputi berbagai negara di Asia, seperti Cina, India, Indonesia, Jepang, Korea, Malaysia, Myanmar, Pakistan, Srilanka, Taiwan, Thailand dan Vietnam. Satu spesies, Megacopta cribraria, baru-baru ini dikenal sebagai hama kedelai di Amerika Serikat. Dua spesies di antaranya yang terdapat di Indonesia ialah Brachyplatys sp. dan Coptosoma sp.

 

Klasifikasi

Kingdom : Animalia
Filum : Arthropoda
Klas : Insekta
Ordo : Hemiptera
Subordo : Heteroptera
Superfamili : Pentatomoidea
Famili : Plataspididae

Takson ini pertama kali disebutkan sebagai kelompok yang lebih tinggi oleh Dallas (1851-1852). Fieber (1861) menggunakan nama Arthropteridae, Kirkaldy (1909) menggunakan nama Coptosominae, dan Leston (1952) menggunakan nama Brachyplatidae. Warna, pembesaran skutelum, dan lipatan sayap dari serangga ini menunjukkan hubungannya dengan famili Aphylidae, Canopidae, Lestoniidae, Megarididae, dan Scutelleridae.

 

Bentuk dan Ukuran

Ukuran serangga Plataspididae umumnya cukup kecil, dengan panjang 2,5 – 7 mm dan sering ditemukan dalam kelompok-kelompok kecil pada batang, tunas muda dan bunga pada tanaman inang. Genus Coptosoma memiliki ukuran tubuh 2,5 – 5 mm, hampir berbentuk lingkaran, dan Brachyplatys dengan ukuran 5 – 7 mm. Sayap depan lebih panjang dibandingkan dengan tubuhnya, dan dapat dilipat secara melintang di bawah skutelum. Antena terdiri atas 4 ruas dan tarsi 2 ruas.

 

Kunci Determinasi

Genus Coptosoma memiliki ciri yaitu oceli yang terdapat di dekat mata; rasio jarak antara mata dan oceli terhadap jarak interocellar kurang dari 1:2; sterna abdominal biasanya cembung; kepala biasanya  sempit, kira-kira 0,3-0,5 kali lebih lebar dari pronotum; dan dasar skutelum (pseudoskutelum) biasanya muncul.

Genus Brachyplatys memiliki ciri oceli yang terletak saling berdekatan, rasio jarak antara mata dan oceli terhadap jarak interocellar lebih besar dari 1:2; sterna abdominal tidak atau sedikit cembung; kepala melintang, biasanya 0,5-0,7 kali lebar pronotum; pseudoskutelum tidak ada atau kurang berkembang; tubuh rata; warna hitam, kadang-kadang terlihat kuning, sering dengan garis submarginal kuning di kepala, pronotum dan skutelum.

 

Tanaman Inang

Serangga ini sebagian besar merupakan herbivora yang memakan bagian floem dengan inang yang beragam, di antaranya pada tanaman Leguminoceae dan Fabaceae. Serangga ini diketahui menyerang tanaman turi (Sesbania grandiflora), gamal (Gliricida maculata) dan akasia (Acacia sp.).  Tanaman gamal dan akasia juga berfungsi sebagai tanaman pelindung pada kebun kakao dan kopi. Tanaman inang yang lain yaitu kacang panjang, kedelai, kacang koro dan tanaman kacang-kacangan lainnya. Karena kisaran inangnya yang cukup beragam, maka serangga ini berpotensi untuk menjadi hama penting.  Serangan kepik ini dalam jumlah banyak pada bagian pucuk menyebabkan pucuk menjadi layu dan mati. Serangan yang tinggi akan menyebabkan daun berguguran kemudian mati. Serangga ini biasanya ditemukan berkelompok pada pangkal ranting dan dapat berpindah ke ranting yang lain.

 

Siklus Hidup

Serangga ini mengalami metamorfosis tidak sempurna, tanpa fase pupa. Imago betina meletakkan telurnya pada batang, ranting muda, daun dan buah secara berkelompok dan tersusun dalam 2 baris. Sebelum meletakkan telur, serangga betina menyimpan partikel  yang berisi simbion yang kemudian akan dimakan oleh nimfa yang baru menetas. Jumlah telur pada setiap kelompok antara 25-75 butir. Telur berwarna putih berbentuk seperti tabung dengan panjang 1 mm dan diameter 0,5 mm. Masa telur berlangsung antara 7-10 hari. Nimfa yang baru keluar berwarna coklat muda dan berangsur-angsur berubah menjadi coklat tua. Nimfa instar 1 yang baru keluar dari telur akan segera mencari bakteri simbion yang terdapat pada bagian tengah dan belakang telur. Bakteri ini membantu nimfa dalam proses pergantian instar ke instar selanjutnya. Nimfa yang kehilangan akses dengan simbion menunjukkan pertumbuhan yang lebih lambat, ukuran tubuh lebih kecil dan mortalitas yang lebih tinggi. Nimfa instar 2 sampai instar 4 akan mencari makanan pada pucuk tanaman.  Perkembangan nimfa menjadi imago ditandai dengan perubahan dari instar 1 sampai instar 5. Siklus hidup serangga ini yaitu sekitar 30 hari.

 

Trophobiosis

Serangga ini diketahui memiliki hubungan trophobiosis dengan beberapa spesies semut, di antaranya Componotus brutus (Formicidae) dan Myrmicaria opaciventris (Myrmicinae). Trophobiosis dalam hal ini merupakan hubungan simbiosis antara semut dengan kepik Plataspididae. Semut memakan honeydew dengan kandungan gula yang tinggi, yang disekresikan oleh nimfa dan serangga dewasa. Sementara itu, dengan dimanfaatkannya honeydew oleh semut akan memberikan perlindungan terhadap musuh alami, seperti predator dan parasitoid, antara lain parasitoid telur Ooencyrtus sp. (Hymenoptera: Encyrtidae). Hal tersebut dikarenakan honeydew merupakan sinyal kimia bagi musuh alami terhadap keberadaan mangsanya, sehingga dengan dimakannya honeydew oleh semut, semakin sulit bagi musuh alami untuk menemukan mangsanya.

 

Referensi

Gibernau M & Dejean A. 2001. Ant protection of Heteropteran trophobiont against a parasitoid wasp. Oecologia 126: 53-57.

Kalshoven LGE. 1981. The Pests of Crops in Indonesia. Ichtiar Baru Van Hoeve. Jakarta.

Maschwitz U, Fiala B, Dolling WR. 1987. New trophobiotic symbioses of ants with South East Asian Bugs. Journal of Natural History 21: 1097-1107.

Randall T Schuh & James A Slater. 1995. True Bugs of The World (Hemiptera: Heteroptera), Classification and Natural History. Cornell University Press, Ithaca, New York.