Departemen Hama dan Penyakit Tumbuhan (HPT) Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada (UGM) melaksanakan kegiatan pengabdian kepada masyarakat di Dusun Siweru, Kecamatan Sigaluh, Kabupaten Banjarnegara, yang dikenal sebagai “Kampung Durian”, pada 4 Februari 2026. Kegiatan ini melibatkan dosen Departemen HPT, yaitu Prof. Ir. Achmadi Priyatmojo, M.Sc., Ph.D., IPU., Prof. Dr. Ir. Y. Andi Trisyono, M.Sc., Dr. Suputa, S.P., M.P., Prof. Dr. Ir. Triwidodo Arwiyanto, M.Sc., serta dosen purna tugas Dr. Ir. Sri Sulandari, S.U. Kegiatan pengabdian difokuskan pada penguatan budidaya durian varietas premium seperti Musang King dan Duri Hitam, yang saat ini banyak dibudidayakan oleh petani setempat. Namun, sejumlah tanaman dilaporkan belum berbuah. Untuk mengatasi permasalahan tersebut, TIm dosen mendiskusikan penerapan teknologi budidaya, salah satunya metode top working (penyambungan pucuk), yang berpotensi meningkatkan produktivitas tanaman. Dalam kondisi opTImal, satu pohon durian dapat menghasilkan sekitar 80–150 buah per musim panen. Dusun Siweru merupakan bagian dari komunitas durian Rupaduri yang telah memasuki tahun kedua pengembangan. Pada tahun ini, program pengembangan durian direncanakan menjangkau hampir seluruh kecamatan di Kabupaten Banjarnegara, dengan luas areal sekitar 344 ribu meter persegi dan sebanyak 2.782 pohon durian yang telah terdata. Selain pengembangan kebun, komunitas Rupaduri juga menyelenggarakan pelatihan dan edukasi bagi petani, pendampingan pemeliharaan kebun, serta pengembangan unit edukasi dan bisnis yang mencakup produksi buah segar dan kegiatan pembelajaran budidaya durian. Kegiatan ini turut didampingi oleh Mas Bayu selaku Ketua Rupaduri dan Mas Hakim selaku Wakil Ketua Rupaduri yang berperan dalam pengawalan manajemen dan perawatan kebun. Dalam kegiatan tersebut, TIm pengabdian juga memperkenalkan pemanfaatan agens hayaTI sebagai bagian dari pengendalian organisme pengganggu tanaman (OPT), serta mendorong pengembangan durian lokal unggul melalui kontes varietas lokal. Diskusi teknis juga mencakup strategi pemupukan untuk merangsang pembungaan di luar musim, teknik sambung pucuk dan okulasi, serta faktor lingkungan seperti kekeringan tempat. Wilayah Sigaluh yang berada pada kisaran 500–600 meter di atas permukaan laut dinilai cukup ideal untuk budidaya durian, dengan kondisi opTImal pada ketinggian 600–700 mdpl. Aspek ekologi penyerbukan turut menjadi perhatian dalam diskusi, mengingat penyerbuk utama durian adalah kelelawar yang aktif pada malam hari, seiring dengan karakter bunga durian yang mekar pada malam hari. Hal ini menjelaskan rendahnya peran serangga diurnal seperti lebah dan kupu-kupu dalam proses penyerbukan. Untuk menjaga kualitas buah, petani juga menerapkan penyemprotan rutin setiap 15 hari sejak fase penTIl buah berukuran sebiji kopi guna mencegah serangan hama dan penyakit. Tim pengabdian juga mengidentifikasi berbagai permasalahan penyakit tanaman durian, seperti hawar daun, serangan hama pada batang, serta gejala jamur upas yang ditandai dengan lapisan putih pada batang yang menyebabkan jaringan tanaman mengering. Selain itu, kondisi iklim ekstrem, khususnya curah hujan TInggi, dilaporkan dapat memengaruhi kualitas buah, di mana sebagian buah matang lebih awal namun belum mencapai performa optimal, sementara sisanya baru matang dengan kualitas yang lebih baik pada fase berikutnya.
Melalui kegiatan pengabdian ini, Departemen HPT UGM berharap dapat memperkuat kapasitas petani durian di Banjarnegara melalui transfer teknologi budidaya, pengendalian OPT, dan pengelolaan kebun yang berkelanjutan, sehingga produktivitas dan kualitas durian lokal maupun varietas premium dapat meningkat secara signifikan. Kegiatan pengabdian ini mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 2 (Tanpa Kelaparan) melalui peningkatan produktivitas durian, SDG 4 (Pendidikan Berkualitas) melalui transfer pengetahuan dan teknologi budidaya kepada petani, serta SDG 9 (Industri, Inovasi, dan Infrastruktur) melalui penerapan inovasi pengendalian hayati yang ramah lingkungan. Kolaborasi antara perguruan TInggi dan petani juga mencerminkan dukungan terhadap SDG 17 (Kemitraan untuk Mencapai Tujuan) dalam pengembangan pertanian berkelanjutan.


