
Gunungkidul, 12–13 Agustus 2026 – Departemen Hama dan Penyakit Tumbuhan (HPT), Fakultas Pertanian, Universitas Gadjah Mada (UGM), menyelenggarakan Konsinyering Kurikulum sebagai bagian dari upaya penyusunan dan penyempurnaan kurikulum pada Program Studi S1 Proteksi Tanaman, Program Studi Magister Ilmu Hama Tanaman, dan Program Studi Magister Fitopatologi. Kegiatan berlangsung di HeHa Ocean View, Kabupaten Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta, dengan melibatkan tenaga pendidik dan partisipan dari berbagai pihak yang berkepentingan dalam pengembangan pendidikan di Departemen HPT UGM.
Kegiatan ini dibuka oleh Prof. Dr. Ir. Siwi Indarti, M.P. selaku Ketua Departemen Hama dan Penyakit Tumbuhan. Konsinyering kurikulum menjadi momentum penting untuk melakukan evaluasi, finalisasi, serta penyelarasan kurikulum agar tetap relevan dengan perkembangan ilmu pengetahuan, kebutuhan dunia kerja, perkembangan teknologi, serta tantangan sektor pertanian dan perlindungan tanaman di masa mendatang.
Rangkaian kegiatan diawali dengan sesi Konsinyering Kurikulum Program S1 Proteksi Tanaman yang berfokus pada finalisasi mata kuliah dan dosen pengampu. Sesi tersebut diawali dengan pengantar oleh Prof. Dr. Tri Joko, S.P., M.Sc., serta dimoderatori dan didampingi oleh Prof. Dr. Ir. Sedyo Hartono, M.P. bersama partisipan yang terlibat dalam proses penyempurnaan kurikulum. Pembahasan kemudian dilanjutkan dengan agenda update dan sinkronisasi Rencana Pembelajaran Semester (RPS) untuk memastikan kesesuaian antara struktur kurikulum, mata kuliah, capaian pembelajaran, dan proses pembelajaran.
Selain membahas kurikulum Program S1 Proteksi Tanaman, kegiatan konsinyering juga menghadirkan sesi paralel untuk Program Studi Magister Ilmu Hama Tanaman dan Program Studi Magister Fitopatologi. Pada sesi Program Studi Magister Ilmu Hama Tanaman, pembahasan mencakup finalisasi kurikulum, mata kuliah, dosen pengampu, serta update dan sinkronisasi RPS. Sesi ini dimoderatori dan didampingi oleh Dr. Ir. Arman Wijonarko, M.Sc., dengan dukungan partisipan sebagai operator kegiatan.
Sementara itu, sesi paralel Konsinyering Kurikulum Program Studi Magister Fitopatologi juga membahas aspek-aspek penting dalam penyempurnaan kurikulum, meliputi finalisasi kurikulum, mata kuliah, dosen pengampu, serta update dan sinkronisasi RPS. Sesi tersebut dimoderatori dan didampingi oleh Prof. Ir. Achmadi Priyatmojo, M.Sc., Ph.D., IPU. Pembahasan dalam sesi ini menjadi bagian penting dalam memastikan kurikulum Magister Fitopatologi tetap mampu mendukung pengembangan kompetensi lulusan sesuai dengan perkembangan bidang ilmu penyakit tumbuhan dan kebutuhan penelitian serta profesional di bidang pertanian.
Konsinyering kurikulum juga menjadi ruang untuk memperkuat koordinasi dan kesamaan pemahaman di antara para dosen dalam penyelenggaraan proses pembelajaran. Melalui pembahasan secara intensif, berbagai komponen kurikulum dapat dikaji secara lebih menyeluruh, termasuk keterkaitan mata kuliah, dosen pengampu, serta implementasi RPS. Proses tersebut diharapkan menghasilkan kurikulum yang lebih terstruktur, terintegrasi, dan mampu mendukung pencapaian kompetensi lulusan secara optimal.
Penyempurnaan kurikulum merupakan bagian penting dari komitmen Departemen HPT UGM dalam menjaga mutu pendidikan dan memastikan lulusan memiliki kompetensi yang sesuai dengan kebutuhan perkembangan ilmu pengetahuan dan sektor pertanian. Kurikulum yang adaptif juga diharapkan dapat memperkuat keterkaitan antara pendidikan, penelitian, dan kebutuhan masyarakat, sekaligus memberikan ruang bagi pengembangan inovasi di bidang perlindungan tanaman.
Melalui kegiatan ini, Departemen Hama dan Penyakit Tumbuhan UGM terus berupaya memperkuat kualitas pendidikan pada jenjang sarjana maupun pascasarjana. Hasil konsinyering diharapkan dapat menjadi landasan bagi implementasi kurikulum yang semakin relevan, responsif, dan berorientasi pada pengembangan sumber daya manusia unggul di bidang perlindungan tanaman.
Kegiatan Konsinyering Kurikulum ini mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 4 (Quality Education) melalui upaya peningkatan mutu dan relevansi pendidikan tinggi, SDG 9 (Industry, Innovation and Infrastructure) melalui penguatan pendidikan dan inovasi berbasis ilmu pengetahuan, serta SDG 17 (Partnerships for the Goals) melalui kolaborasi dan koordinasi antara dosen serta berbagai pemangku kepentingan dalam pengembangan kurikulum pendidikan tinggi di bidang perlindungan tanaman.



