Yogyakarta, 22 September 2026 – Fakultas Pertanian, Universitas Gadjah Mada (UGM) kembali menambah jajaran Guru Besar dengan dikukuhkannya Prof. Dr. Ir. Sedyo Hartono, M.P. sebagai Guru Besar dalam bidang Virologi Tumbuhan. Upacara pengukuhan berlangsung pada Selasa (22/9/2026) di Balairung UGM dan diselenggarakan oleh Dewan Guru Besar Universitas Gadjah Mada.
Dalam prosesi tersebut, Prof. Sedyo Hartono menyampaikan pidato pengukuhan berjudul “Penyakit Virus Tumbuhan, Ancaman dan Peluang Pengelolaannya Menuju Pertanian Indonesia yang Berkelanjutan.” Pidato tersebut mengangkat berbagai tantangan penyakit virus tumbuhan sekaligus perkembangan teknologi dan strategi pengelolaannya dalam mendukung ketahanan pangan dan keberlanjutan pertanian Indonesia.
Pengukuhan ditandai dengan pembacaan kutipan keputusan Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Republik Indonesia mengenai pengangkatan Prof. Sedyo Hartono sebagai Guru Besar dalam bidang ilmu Virologi Tumbuhan. Berdasarkan keputusan tersebut, pengangkatan berlaku terhitung mulai 1 September 2025.
Dalam pidato ilmiahnya, Prof. Sedyo menyoroti posisi penyakit virus tumbuhan sebagai salah satu tantangan dalam menjaga ketahanan pangan. Menurutnya, kebutuhan pangan yang terus meningkat menghadapi tantangan yang semakin kompleks, mulai dari perubahan iklim, degradasi sumber daya alam, alih fungsi lahan, hingga meningkatnya mobilitas perdagangan global dan kemunculan berbagai organisme pengganggu tumbuhan.
Virus memiliki karakteristik yang berbeda dari banyak patogen tumbuhan lainnya. Virus bergantung pada sel hidup tanaman inang untuk berkembang dan dapat mengambil alih sistem metabolisme tanaman, sehingga mengganggu proses fisiologis, fotosintesis, dan pertumbuhan tanaman. Infeksi virus pada kondisi tertentu juga dapat menurunkan kualitas dan hasil panen.
Selain itu, kemampuan virus untuk berevolusi melalui mutasi dan rekombinasi menjadi tantangan tersendiri dalam pengelolaan penyakit. Mobilitas perdagangan benih dan bahan tanam antarwilayah maupun antarnegara turut meningkatkan risiko penyebaran patogen ke wilayah baru.
Prof. Sedyo juga menekankan bahwa perubahan iklim dapat memengaruhi interaksi antara tanaman inang, virus, serangga vektor, dan lingkungan. Perubahan suhu, pola curah hujan, serta kejadian cuaca ekstrem dapat mengubah dinamika agroekosistem dan berpengaruh terhadap perkembangan serta penyebaran penyakit virus.
Salah satu aspek penting yang menjadi perhatian dalam pidato tersebut adalah perkembangan teknologi diagnosis penyakit virus tumbuhan. Prof. Sedyo menjelaskan bahwa diagnosis merupakan langkah awal yang menentukan dalam pengelolaan penyakit. Kesalahan diagnosis dapat menyebabkan strategi pengendalian yang tidak tepat dan pemborosan sumber daya.
Perkembangan diagnosis penyakit virus telah bergerak dari pengamatan gejala dan kisaran inang menuju pemanfaatan teknologi serologi dan biologi molekuler. Teknologi seperti ELISA, PCR, quantitative PCR (qPCR), hingga loop-mediated isothermal amplification (LAMP) memberikan peluang untuk melakukan deteksi virus dengan tingkat sensitivitas dan kecepatan yang semakin tinggi.
Perkembangan lebih lanjut melalui Next Generation Sequencing (NGS) juga membuka peluang untuk mengidentifikasi materi genetik virus secara lebih komprehensif. Teknologi tersebut dapat dimanfaatkan untuk mendukung penemuan virus baru, karakterisasi infeksi, serta kajian evolusi virus.
Dalam konteks Indonesia, penguatan sistem diagnostik menjadi semakin penting seiring dengan meningkatnya mobilitas bahan tanaman dan perdagangan pertanian. Prof. Sedyo menekankan pentingnya penguatan sertifikasi benih, karantina tumbuhan, diagnostik molekuler, dan biosekuriti nasional untuk mengantisipasi penyebaran virus.
Prof. Sedyo menegaskan bahwa hingga saat ini belum tersedia antivirus yang efektif untuk menyembuhkan tanaman yang telah terinfeksi virus di lapangan. Oleh karena itu, pengelolaan penyakit virus perlu dilakukan melalui kombinasi berbagai strategi yang saling melengkapi.
Sejumlah pendekatan yang disampaikan mencakup penggunaan bahan tanam bebas virus, pemilihan varietas, sanitasi dan eradikasi tanaman terinfeksi, pengendalian gulma, pengelolaan serangga vektor, rotasi dan pengaturan waktu tanam, penerapan crop barrier, penggunaan mulsa reflektif, serta pemantauan penyakit secara berkala.
Pengelolaan vektor juga menjadi aspek penting karena banyak virus tumbuhan bergantung pada serangga untuk penyebarannya. Prof. Sedyo mengingatkan bahwa penggunaan insektisida secara berlebihan dapat memicu resistensi, mengganggu keseimbangan ekosistem, membunuh musuh alami, serta meningkatkan biaya produksi. Karena itu, pendekatan pengelolaan terpadu menjadi bagian penting dalam membangun strategi pengendalian yang lebih efektif dan berkelanjutan.
Memasuki era pertanian 4.0, Prof. Sedyo melihat adanya peluang besar untuk mengintegrasikan teknologi digital dalam pemantauan dan pengelolaan penyakit tanaman. Sensor optik, kamera multispektral, drone, satelit, dan Internet of Things (IoT) dapat digunakan untuk memantau kondisi tanaman secara lebih cepat dan berkala.
Di sisi lain, perkembangan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) juga membuka peluang pemanfaatan machine learning dan deep learning untuk mengenali gejala penyakit melalui citra tanaman. Integrasi data kondisi lingkungan, populasi vektor, serta riwayat epidemi penyakit dapat dikembangkan untuk membangun sistem peringatan dini (early warning system) dan mendukung pengambilan keputusan di lapangan.
Prof. Sedyo juga menyoroti perkembangan pendekatan multiomik yang mengintegrasikan genomik, transkriptomik, proteomik, metabolomik, dan mikrobiomik. Pendekatan tersebut berpotensi memberikan pemahaman yang lebih menyeluruh mengenai interaksi virus dan tanaman, mulai dari perubahan ekspresi gen hingga respons fisiologis tanaman selama proses infeksi.
Menurutnya, Indonesia memiliki potensi besar untuk menjadi salah satu pusat unggulan penelitian virologi tumbuhan tropika karena didukung oleh biodiversitas yang tinggi, keragaman agroekosistem, sumber daya genetik, serta beragam komoditas strategis. Potensi tersebut perlu didukung dengan penguatan sumber daya manusia, laboratorium, jejaring internasional, dan pendanaan riset yang berkelanjutan.
Prof. Sedyo Hartono lahir di Demak pada tahun 1968. Ia menempuh pendidikan sarjana dan magister di Fakultas Pertanian UGM sebelum melanjutkan pendidikan doktoral di United Graduate School, Tokyo University of Agriculture and Technology, Jepang, melalui beasiswa Hitachi Scholarship Foundation. Ia juga pernah mengikuti The Agricultural Biotechnology Training Course di National Taiwan University, Taipei, Taiwan.
Dalam perjalanan akademiknya, Prof. Sedyo telah menerbitkan tiga buku dan sekitar 40 publikasi jurnal nasional maupun internasional dalam lima tahun terakhir. Ia juga pernah memperoleh penghargaan Satyalancana Karya Satya 20 Tahun dari Presiden Republik Indonesia pada 2017. Di lingkungan Fakultas Pertanian UGM, ia saat ini menjabat sebagai Ketua Program Studi Proteksi Tanaman.
Dalam pidatonya, Prof. Sedyo menyampaikan apresiasi kepada berbagai pihak yang telah mendukung perjalanan akademiknya, mulai dari keluarga, guru dan pembimbing, kolega di Departemen HPT, sivitas akademika Fakultas Pertanian UGM, mahasiswa dan alumni, hingga berbagai mitra penelitian dan institusi yang pernah bekerja sama dengannya.

Ia juga secara khusus menyampaikan penghargaan kepada para pembimbing yang telah berperan dalam perjalanan pendidikannya, baik pada jenjang sarjana, magister, maupun doktoral. Kebersamaan dengan kolega di Departemen HPT juga disebut sebagai bagian penting dari perjalanan panjangnya sebagai akademisi dan peneliti.
Menutup pidatonya, Prof. Sedyo menyampaikan pandangan bahwa tantangan terbesar dalam virologi tumbuhan bukan semata-mata keberadaan virus, melainkan kemampuan manusia untuk terus belajar, beradaptasi, dan berinovasi menghadapi perubahan virus, iklim, dan sistem pertanian.
“Virus akan terus berubah, iklim akan terus berubah, sistem pertanian juga akan terus berubah. Namun saya percaya bahwa ilmu pengetahuan yang dikembangkan secara kolaboratif, didukung oleh integritas akademik dan diarahkan untuk kepentingan masyarakat akan selalu mampu melahirkan solusi atas berbagai tantangan tersebut.”
Pengukuhan Prof. Dr. Ir. Sedyo Hartono, M.P. menjadi momentum penting bagi Departemen Hama dan Penyakit Tumbuhan dan Fakultas Pertanian UGM dalam memperkuat kontribusi akademik di bidang virologi tumbuhan. Gagasan yang disampaikan dalam pidato pengukuhan sekaligus menegaskan pentingnya pengembangan riset yang integratif, inovatif, dan kolaboratif untuk mendukung ketahanan pangan serta mewujudkan pertanian Indonesia yang tangguh dan berkelanjutan



