
Rangkaian Advanced Training in Plant Health: From Field Surveillance to Molecular Technologies yang diselenggarakan oleh Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada (Faperta UGM) bekerja sama dengan World Vegetable Center (WorldVeg) memasuki hari keempat dengan fokus pada integrasi antara diagnostik penyakit tanaman dan program pemuliaan tanaman modern. Setelah peserta memperoleh pemahaman mengenai surveilans lapangan, diagnostik molekuler, hingga analisis bioinformatika pada hari-hari sebelumnya, kegiatan kali ini diarahkan untuk memperkenalkan bagaimana hasil diagnosis penyakit dapat dimanfaatkan dalam proses seleksi varietas unggul melalui pendekatan Marker-Assisted Selection (MAS).
Kegiatan diawali dengan sesi Lecture: Linking Diagnostics to Breeding Decisions yang disampaikan oleh Derek. Dalam sesi ini peserta mempelajari bagaimana hasil diagnosis penyakit tanaman berperan sebagai dasar pengambilan keputusan dalam program pemuliaan. Materi yang disampaikan mencakup peranan teknologi diagnostik pada setiap tahapan breeding pipeline, identifikasi gen ketahanan, proses seleksi karakter unggul, hingga pengenalan berbagai penyakit utama pada tanaman cabai yang menjadi target pengembangan varietas tahan penyakit. Sesi ini memberikan gambaran bahwa keberhasilan pemuliaan tanaman tidak hanya bergantung pada karakter agronomis, tetapi juga pada kemampuan mendeteksi dan memahami interaksi antara tanaman dan patogen secara akurat.
Selanjutnya, Derek menyampaikan materi Marker-Assisted Selection (MAS) & Genotyping Approaches, yang membahas konsep dasar seleksi berbantuan marka molekuler sebagai salah satu teknologi penting dalam pemuliaan tanaman modern. Peserta diperkenalkan pada berbagai jenis marka molekuler seperti Single Nucleotide Polymorphism (SNP) dan Simple Sequence Repeat (SSR), teknik validasi marka, hingga alur kerja genotiping yang diterapkan dalam program pemuliaan. Melalui materi ini, peserta memperoleh pemahaman mengenai bagaimana informasi genetik dapat dimanfaatkan untuk mempercepat proses seleksi tanaman unggul dibandingkan metode seleksi konvensional.
Setelah sesi istirahat, kegiatan dilanjutkan dengan Case Study: Pepper Disease Resistance Deployment yang masih dipandu oleh Derek. Pada sesi ini peserta mempelajari penerapan hasil penelitian ketahanan penyakit pada tanaman cabai terhadap penyakit antraknosa, bercak bakteri (bacterial spot), dan berbagai penyakit yang disebabkan oleh virus. Studi kasus tersebut menjelaskan alur mulai dari proses screening, seleksi galur, hingga tantangan dalam mengadaptasikan varietas tahan penyakit ke kondisi lapangan. Diskusi ini memberikan gambaran nyata mengenai berbagai kendala yang dihadapi dalam mengembangkan varietas unggul yang tidak hanya tahan terhadap penyakit, tetapi juga mampu beradaptasi dengan berbagai kondisi lingkungan budidaya.
Menjelang siang, seluruh fasilitator memimpin sesi diskusi bertajuk From Lab to Field: Translating Resistance into Adapted Varieties. Diskusi ini mengintegrasikan seluruh materi yang telah dipelajari sejak awal pelatihan dengan menyoroti strategi penerapan varietas tahan penyakit di tingkat petani, pentingnya sistem perbenihan (seed system), serta tantangan dalam mentransformasikan hasil penelitian laboratorium menjadi inovasi yang dapat dimanfaatkan secara luas oleh masyarakat. Peserta juga diberikan kesempatan untuk berdiskusi secara langsung mengenai peluang kolaborasi penelitian serta pengembangan teknologi perlindungan tanaman yang berkelanjutan.
Pada sesi praktikum sore hari, peserta mengikuti Lab Session: Marker Detection & Genotyping yang dipandu oleh Jo, Prof. Ani Widiastuti, S.P., M.P., Ph.D., dan Dr. Widhi Dyah Sawitri (UGM). Praktikum ini memberikan pengalaman langsung kepada peserta dalam melakukan analisis marka berbasis DNA, deteksi marka menggunakan teknik PCR, serta interpretasi hasil genotiping sebagai dasar identifikasi tanaman yang membawa gen ketahanan terhadap penyakit. Kegiatan ini memperlihatkan bagaimana pendekatan molekuler dapat mempercepat proses seleksi varietas dibandingkan pengujian fenotipe yang umumnya membutuhkan waktu lebih panjang.
Rangkaian kegiatan hari keempat ditutup melalui sesi Hands-on: Data Interpretation & Selection Decisions yang dipandu oleh Dr. Widhi Dyah Sawitri, Lourena Maxwell, Ram, Prof. Ani Widiastuti, S.P., M.P., Ph.D., Owen, dan Wallace. Pada sesi ini peserta mengintegrasikan hasil pengamatan fenotipe dengan data genotipe untuk menentukan galur tanaman yang memiliki potensi ketahanan terbaik. Selain mempelajari teknik interpretasi data, peserta juga diajak memahami proses pengambilan keputusan dalam program pemuliaan berbasis data molekuler sehingga mampu menghasilkan varietas unggul yang lebih efisien, akurat, dan adaptif terhadap perkembangan penyakit tanaman.
Pelaksanaan hari keempat Advanced Training in Plant Health: From Field Surveillance to Molecular Technologies semakin memperkuat kontribusi terhadap pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs). Pengembangan kapasitas peserta dalam bidang pemuliaan tanaman berbasis diagnostik molekuler dan Marker-Assisted Selection (MAS) mendukung SDG 2 (Zero Hunger) melalui percepatan pengembangan varietas unggul yang tahan terhadap penyakit sehingga mampu meningkatkan produktivitas pertanian secara berkelanjutan. Selain itu, kegiatan ini juga berkontribusi terhadap SDG 4 (Quality Education) melalui pembelajaran berbasis riset dan praktik laboratorium, SDG 9 (Industry, Innovation and Infrastructure) melalui penerapan teknologi bioteknologi dan marka molekuler dalam pemuliaan tanaman, serta SDG 17 (Partnerships for the Goals) melalui kolaborasi antara Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada, World Vegetable Center, serta para akademisi dan peneliti internasional dalam memperkuat inovasi di bidang kesehatan tanaman dan ketahanan pangan global.



